Macet dan Manfaat

Source: detiknews.com

Jakarta, sarapan paginya selain lontong sayur, ketoprak, bubur ayam, nasi kuning, nasi ulam, nasi uduk dan nasi-nasi lainnya adalah macet. Kenapa saya bilang sarapan pagi, bagi saya macet ini berbentuk, berasa dan tersaji (khususnya) di pagi hari sama seperti hal sarapan lainnya. Tapi ada perbedaan antara macet sebagai sarapan dengan sarapan yang lain, kalau sarapan yang lain bisa dipilih sesuai selera tentunya dinikmati dengan senang hati. Berbeda halnya dengan macet, ini sajian yang mau tidak mau harus di “konsumsi” di Jakarta, enak ga enak mesti dihabisin!🙂

Betul, Jakarta adalah kota ter-crowded di Indonesia, selain Surabaya, Bandung, Makassar dan Medan. Dan tentunya karena statusnya sebagai “Orang Tua Tunggal” (baca; Ibu) Kota di Indonesia menuntut Jakarta menjadi tempat bergantungnya kota-kota yang lain di Indonesia. Saya heran, kenapa di sebut dengan sebutan Ibu Kota, Bapak Kotanya mana? Bukankah Bapak yang lebih bertanggung jawab dari pada Ibu?😀 Ini konsep Orang Tua tunggal yang dijalankan oleh Indonesia, seluruh tetek bengek urusan dan kebutuhan bergantung dan terpusat di kota ini. Tapi, sudahlah saya tidak akan membicarakan hal ini.

Rabu 15 Desember 2011, seperti biasa kurang dari jam 7 pagi saya sudah berangkat ke kantor dari rumah (sebetulnya rumah tumpangan, sih🙂 di Jagakarsa menuju Tebet Soepomo, sekitar Pancoran. Dan seperti biasa juga sarapan yang sudah tersaji mulai dari Lenteng Agung sampai Pancoran sudah siap untuk dilahap. Saya menggunakan sepeda motor, tidak akan terbayang jika menggunakan angkutan umum untuk menembus kemacetan ini. Seperti pengendara motor pada umumnya, saya juga menggunakan helm, jaket, masker dan sarung tangan, dan seperti pengendara motor pada ‘sebagiannya’, SIM saya mati alias belum diperpanjang😀 Seperti yang saya singgung di atas sajian kemacetan tidak bisa dihindari karena satu-satunya akses ke kantor hanya ini, bisa aja sih yang lain tapi muter-muter. Nah, karena macet kecepatan motor rata-rata hanya 35 km/jam dan porseneling pun cuma bergeser dari 1 ke 2, sesekali 3 ke 4 itu juga hanya sebentar dengan posisi tangan kiri tetap stand by pada kopling. Dengan kecepatan rata-rata segitu, saya suka memperhatikan hal-hal sekeliling mulai dari cara orang membawa motor, sepeda motornya, kondisi jalanan sampai hal-hal kecil seperti merk dan ukuran ban yang digunakan.

Source: lintasberita.com

Nah, khusus untuk hari ini, saya menemukan beberapa manfaat macet bagi orang-orang pengguna dan non-pengguna kendaraan bermotor, tentunya di jalur yang saya lewati. Pertama, saya bisa menghapal pengendara motor yang beriliweran di sekitar saya berikut motor yang digunakan, yang mencolok adalah pengendara motor yang selalu menggunakan jaket batik, sepeda motor merk Honda Kharisma dan tas ransel yang bertuliskan DPR-RI, mungkin nanti bisa berkenalan waktu berhenti bareng di lampu merah. Ini manfaat pertama, nambah kenalan, solidaritas sesama pengguna sepeda motor (*lebay!). Kedua, kondisi macet ternyata bisa dimanfaatkan untuk sarapan di atas motor, bukan hanya di mobil manfaat ini dirasakan sambil menyetir, ternyata dengan menggunakan sepeda motor juga bisa. Bagaimana caranya? Ya, bukan yang bawa sepeda motornya, tapi penumpangnya, tadi saya lihat di jalanan sekitar Stasiun Tanjung Barat seorang wanita paruh baya lahap menyantap sarapan sembari bermacet ria. Ketiga, di sekitar fly over TB Simatupang, anggota TNI berseragam lengkap menikmati kemacetan dengan tangan kiri tidak lepas memandang layar handphone-nya. Betul, ada waktu senggang selama macet, silahkan dimanfaatkan untuk berkomunikasi, tapi yang ini beda, sambil nyetir motor, jangan ditiru. Keempat, ada polisi cepek (baca; orang yang suka membantu kendaraan untuk belok atau putar arah) yang menawarkan jasa selama kemacetan berlangsung, ini sangat berguna bagi pengendara motor atau mobil yang akan berbelok dalam kondisi macet, terutama di perempatan-perempatan atau arah putar balik yang tidak dijaga oleh polisi “beneran” (polisi gocap :D). Sebenarnya macet atau tidak macet pun polisi cepek ini selalu ada nyaris di setiap arah putar balik kendaraan. Kondisi tadi pagi adalah polisi cepek mengambil alih peran di tempat crowded yang biasa dijaga dan diatur oleh polisi (sekitar Pasar Minggu), kemana polisinya?! Kelima, kondisi macet juga bisa buat cuci mata. lho! Haha. Silahkan interprestasikan sendiri. Keenam, arah Pancoran setelah Kalibata yang sering diberitakan di televisi, koran atau radio sebagai salah satu titik macet ternyata betul kemacetan juga bermanfaat bagi wartawan, reporter atau cameraman warta berita sebagai komoditas pemberitaan yang selalu menarik untuk kepentingan penyajian berita, tapi menurut saya cenderung stagnan dengan selalu menyajikan sisi negatif kemacetan. Nah, tepat di depan gedung Sucofindo tadi pagi hadir satu orang cameraman dan reporter salah satu stasiun televisi swasta meliput kondisi kemacetan di sekitar Pancoran, bagi saya kemacematen bermanfaat bagi mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan dan deadline pemberitaan perusahaannya, ya hanya sebatas meliput. Padahal kalau lebih teliti daerah Pasar Minggu menuju Kalibata lebih parah macetnya jika dibandingkan dengan daerah sekitar Pancoran.

Nah, itu adalah sekelumit cerita tentang macet, sifatnya tidak umum dan subyektif di sekitar jalan yang sering saya lewati, saya berusaha mengambil nilai positifnya saja dari kegiatan observasi yang tidak sengaja dilakukan selama dalam perjalanan menuju kantor, tapi disayangkan tidak bisa diabadikan lewat foto.

@dwitamaputra

One thought on “Macet dan Manfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s