W A K T U

Desember, ini bulan penghujung pertanda tahun akan berganti, umur bertambah dan pengharapan-pengharapan baru akan bermunculan. Bagi sebagian orang bulan desember adalah kebahagian, di samping akan datangnya tahun baru seiring dengan harapan di tahun sebelumnya terwujud karena sudah terjanjikan lewat usaha yang dilakukan. Sebagian orang lagi, pergantian waktu justru menjadi momok menakutkan akan kegagalan lain selain kegagalan-kegagalan sebelumnya.  

Bagai siklus laten, waktu berputar tidak terlihat, tidak berasa, tapi memiliki rasa sesal sebagai atribut dan sisipan sebagai bukti bahwa waktu itu ada. Siapa yang berani menentang waktu, seperti menentang Tuhan, atau menentang ketidakadilan karena waktu, tidak akan bisa. Waktu tidak stagnan, tidak pula dinamis, hanya berputar dan berjalan mengikuti alur yang ada. Atau ada yang bisa mengubah alurnya? Mengendalikannya mungkin ada. Setiap orang memiliki kemampuan tersebut. Lalu bagaimana dengan konsep ketidakadilan waktu; dia tidak mengenal standar ganda seperti lazimnya manusia, waktu tidaklah munafik, tidaklah ambigu, atau tidaklah mendua. Dia adalah konsisten dan tidak mengenal konsep keberpihakan. Tetapi kenapa, orang-orang (baca; manusia) menjadikan waktu sebagai pelarian atau sebagai alasan strategis penyebab masalah di dalam hidup. Ya, waktu adalah masalah. Masalah yang tidak bisa diprediksi, diraba, hanya bisa disesali. Ketidakadilan waktu adalah normatif dan lazim, lalu bisa dielakkan atau tidak. Bagaimana cara membuat waktu tidak menghasilkan rasa sesal itu. Kalau demikian, tidak berlakulah konsep waktu yang tidak mendua itu, waktu adalah relatif, tidak lagi konsisten, tidak lagi adil. Jadi, bagiamana caranya memandang waktu itu. Waktu ternyata juga bisa meleleh, berjalan atau berputar tidak beraturan. Ketika berkhayal, bermimipi dan merencanakan sesuatu di masa akan datang, seketika waktu bergerak cepat dan tidak terkendali seenak dan sekena orang yang memimpi. Nah, masalah datang ketika mimpi yang dikhayalkan, rencana yang diimpikan tidak kunjung datang, ternyata waktu tidak berpihak, tidak mau bersahabat, kemudian silahkan disalahkan.

Kita tidak sadar, atau juga sadar, sering kali waktu dijadikan pijakan dan patokan. Menjadikannya pijakan tidak ada salah benarnya, atau tidak menjadikannya alasan lari dari masalah yang dihadapai itu adalah tindakan bijak. Nah, mumpung ini desember mari kita pasang lagi pengharapan-pengharapan yang tidak didukung oleh waktu dari tahun ini atau sebelumnya, atau kita susun pengharapan-pengaharapan baru yang sekiranya realistis untuk didukung waktu. Tidak menjadikan waktu sebagai biang keladi atas kegagalan adalah bijaksana, dengan menambah peluang untuk berteman dengan waktu lewat usaha realistis dalam mencapai pengharapan-pengharapan tadi. Ukur sendiri sejauh mana kita memperlakukan waktu dengan tidak melelehkannya, hingga merasa telah mencapai pengharapan-pengharapan yang diinginkan, tetapi ikut berjalan bersama waktu sebagai proses dan tidak menyalahkan masa lalu.

Nyoret🙂

2 thoughts on “W A K T U

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s