Calon Pendukung Tim Nasional Indonesia

“Bak sayur asem tanpa garam!”, ini reaksi verbal teman saya ketika Indonesia kalah dalam drama adu pinalti dengan Malaysia dengan skor 5-4, walaupun Indonesia juara umum SEA GAMES ke-26. Pertandingan ini kami tonton langsung di GBK, ini pengalaman pertama saya. Berawal ketika euforia SEA GAMES mampir sehingga ada pikiran untuk menonton langsung Tim Nasional sepak bola Indonesia kalau masuk sampai ke partai final, iseng dan ternyata tiket ‘tersedia’ berkat bantuan teman dari seorang teman, harganya Rp. 100.000 untuk kelas I, menurut informasi harganya Rp. 200.000, ini bantuan dari oknum suporter fanatik salah satu tim besar di liga Indonesia. Ternyata betul, harga setengah harga juga harus dibayar dengan fasilitas setengah memuaskan pula.

Berawal dari perjuanganku mabal (sunda, baca; cabut) dari kantor sekitar jam 4 sore menuju stadion GBK setalah mendapatkan kepastian, “Tiketnya ada, Tam! Berangkat sekarang, Lo!”. Kantorku di Tebet, akses ke GBK tidak terlalu susah, motor ada, tapi saya lebih memilih naik kendaraan umum saja. Rencana pertama, busway Pancoran arah Semanggi, transit dan sambung arah Blok M. Dari arah ini sudah banyak calon pendukung Timnas (kenapa calon pendukung? karena mereka belum di stadion), ciri ini tampak kepada kostum dan atribut yang digunakan, tapi saya tidak menggunakan atribut apa-apa untuk mendukung Timnas, lengkap dengan stelan kerjaan. Masuk ke bis Transjakarta, berdiri berbebutan bersebelahann dengan pasangan suami istri, “Mas, mau nonton Indonesia-Malaysia, ya?” tanya suaminya kepada saya. “Lho, kok dia tahu?” sahutku di dalam hati. Obrolan ini berlanjut ngomongin Timnas hingga sampai bertukar nomor handphone. Pertanyaannya, kenapa dia bisa tahu? Ya, menebak situasi atau sekedar basa-basi bisa saja. Tapi ada hal lain menurutku, atribut dukungan tidak kalah penting dari sekedar seragam, syal, pin, bendera, dan sebagainya. Tekad mendukung, khususnya untuk menonton, bisa tercermin tanpa harus menggunakan atribut.

Transit di Semanggi, halte sudah dipenuhi desakan calon pendukung Timnas. Ya, semua berseragam timnas, banyak tindakan yang tidak etis di sini seperti memanjat pagar pembatas antrian untuk berebutan tumpangan, persis seperti antrian tiket pertandingan di Senayan, hingga loket dibakar. Nah, untuk menghindari kerusuhan seperti tindakan pembakaran halte (walaupun hal ini tidak mungkin terjadi,hehe..), saya memutuskan menjalankan rencana kedua, yaitu naik ojek (biasanya orang sunda menyebutnya “ojeg”🙂 ke titik pertemuan yang telah dijanjikan dengan teman, persisnya saya tidak tahu pasti lokasinya, hanya bermodal patokan dan handphone. Ojeknya juga ternyata full booked, alias penuh sedang mengantar konsumen. Saya tetap menunggu, karena berpikir lebih fleksibel naik ojek dengan kondisi crowded seperti ini walau ongkosnya sedikit  mahal dibanding busway atau angkot. “Bang, ke Masjid Al-Bani ya, deket Ratu Plaza” itu perintahku kepada tukang ojek sesuai dengan petunjuk dari teman. “Gak sanggup, Mas..  ke sana minta ampun capeknya harus muter lagi rame soalnya!” Ya, saya maklum. Tapi sejujurnya saya bersyukur tukang ojek ini menolak permintaan saya, ongkosnya ternyata Rp. 30.000-Rp. 40.000, coy! Dimana-mana, rencana ketiga (plan C) itu jarang. Tetapi, bagaimanapun rencana ketiga ini harus segera dioperasionalisasikan. Sore itu menunjukkan pukul 17.15 WIB,  ini dia rencana ketiganya, naik Kopaja 19 jurusan Tanah Abang-Ragunan. Kondisinya sama, Kopaja penuh didesaki penumpang, dan sama, banyak yang menggunakan atribut Timnas. Walah, masa mau jalan ke GBK, sendiri pula! 10 menit, 15 menit menunggu, ternyata ada Kopaja yang penumpangnya tidak terlalu penuh. Saya berlari, melompat dan akhirnya berpegangan di pintu belakang. Jujur saya tidak tahu harus berhenti dimana, ini hanya karena melihat banyak calon pendukung Timnas saja di Kopaja ini. Pas di depan Polda, calon-calon pendukung Timnas ini turun. Otomatis, saya ikut turun, ini karena alasan tadi.  Tindakan selanjutnya adalah menghubungi teman lewat sms dan telpon. Susah! Pada saat itu jaringan mengalami gangguan dan tidak bisa dihubungi. Alhasil, saya harus banyak bertanya ke setiap pedagang asongan untuk mengetahui posisi Masjid Al-Bina dimana, ini sms terakhir teman saya, “Kita ketemu di Masjid Al-Bina..”.

Menuju ke Masjid Al-Bina ini tidak memungkinkan jika menggunakan kendaraan umum, kondisi jalanan ramai oleh calon pendukung Timnas. Saya memutuskan untuk berjalan, berbarengan dengan calon-calon pendukung Timnas yang lain, saya tampak kontras karena tidak menggunakan atribut Timnas. Tidak masalah, dalam perjalanan saya membeli stiker bendera merah putih untuk nantinya ditempel di pipi saat dalam stadion nanti. Pukul 18.00 WIB, pas magribh, saya sampai di titik pertemuan yang telah dijanjikan, Masjid Al-Bina. Kondisi semakin ramai, jaringan handphone masih bermasalah, hasilnya teman tidak bisa dihubungi dan larut dalam keramaian. Alamat sia-sia datang ke GBK sendiri dan tidak jadi nonton partai final jika tidak bertemu dengan teman saya. Adzan magribh, “Ah, magribh dulu aja!” gerutuku karena susah sekali menghubunginya. Dalam sholat ini, saya berdoa agar kedatangan ke stadion GBK ini tidak sia-sia (sedikit lebay..), kan tidak lucu harus pulang lagi (sendiri). “Pertemukan saya dengan teman saya ini, ya Allah!”.

18.30 WIB, teriakan suporter telah terdengar bergema dari dalam stadion, hati ini makin gelisah sembari membuang pandangan jauh berharap dapat melihat yang ditunggu. Saya putuskan duduk di tangga Masjid, sembari masih berusaha untuk menelpon. Hahaha..!!! Ini ekspresi awal saya, ketawa! Tiba-tiba teman saya ini muncul sedang berjalan menaiki anak tangga Mesjid, “Oy, dol! Sial, susah bener ngubungin lo!”. Sama, dia kaget, kami ketemu, Subhanallah berkat doa!

Tiket sudah di tangan, dan bersiap masuk stadion, berebutan tentunya! Itu sudah dibayangkan! Dalam perjalanan menuju stadion ternyata masih banyak calon-calon pendukung Timnas yang berada di luar. Orang-orang ini rata-rata tidak atau belum memiliki tiket, tapi memaksa masuk ingin melihat langsung pertandingan di dalam stadion. Saya tidak hapal persis kami masuk dari gerbang berapa, tapi antrian sudah penuh, bercampur antara calon pendukung yang memiliki tiket dan yang tidak memiliki tiket (yang berharap bisa masuk), mungkin dengan ‘berbagai’ cara. Ini salah satu penyebab membludaknya penonton di dalam stadion, jumlah penonton melebihi kapasitas normal, kalau tidak salah kapasitasnya cuma 80.000 orang (tolong dikoreksi). Kami memiliki tiket, dan tentu percaya diri bisa masuk mulus menjadi prioritas dibanding yang tidak memiliki tiket. Sambil mengantri untuk bisa masuk, saya tetap mengacungkan tiket agar terlihat oleh petugas dan diizinkan untuk masuk. Eh, ada suara dari luar antrin berteriak kepada saya, “Bang, nanti kalo sudah masuk saya pinjem tiketnya ya, bayar deh kagak apa-apa..”. Spontan saya jawab, “Sory, Bos! Gak bisa!” Bukan kenapa-kenpa, tapi ini pelajaran bagi mereka, ada prinsip hak dan kewajiban yang harus dipenuhi, tentunya antara yang memiliki tiket dan tidak, dan kebiasaan menerabas yang sudah dimaklumi. Ironisnya lagi, teman saya menyaksikan langsung tawar-menawar jasa masuk stadion antara oknum polisi dengan calon pendukung, oknum polisi ini mematok harga Rp. 200.000 agar bisa masuk tanpa tiket! Sial, aparat macam apa ini?! Pada partai Indonesia-Vietnam, ada informasi juga dari teman sekantor, oknum TNI buka harga Rp. 60.000 agar bisa masuk ke kelas Tribun tanpa tiket, alhasil penonton di dalam stadion melimpah melebihi kapasitas. Ini menjadi catatan tersendiri dalam hal manajemen pengamanan, tidak hanya untuk cabang sepak bola, saya juga tidak tahu pihak mana yang harus dipersalahkan, banyak variabel berhimpitan dalam kasus ini.

Masuk ke dalam stadion dengan kondisi sudah penuh, salah juga sih karena datang terlambat, tapi perkiraan awal kami karena mempunyai tiket otomatis akan mendapat fasilitas untuk menonton. Berdasarkan hal tersebut, berikut klasifikasi penonton yang bisa saya informasikan, antara lain (i) penonton yang memiliki tiket; (ii) penonton yang tidak memiliki tiket, terdiri penonton yang bisa masuk dengan membayar oknum petugas keamanan dan/atau penonton tanpa tiket karena saudara/kerabat/teman dari petugas keamanan/panitia pelaksana; (iv) penonton tanpa tiket yang menggunakan/atribut panitia pelaksana, saya tidak tahu ini panitia asli atau bukan tapi yang jelas sangat mengganggu dan mengurangi kepuasan penonton yang memiliki tiket; dan (v) petugas polisi dan TNI ikut menonton duduk manis tanpa menjalankan perannya.

Posisi saya bersama teman berdiri dengan kuda-kuda yang tidak sempurna menikimati dorongan karena berebutan tempat dari penonton lain selama pertandingan, keringat berkucuran dan sesekali menoleh ke belakang dan samping karena banyaknya tindakan dorongan tadi. Saya maklum, mereka juga ingin melihat dan mendukung langsung Timnas, tapi caranya yang tidak benar. Kami (baca; para pendukung Timnas yang dorong-dorongan) akhirnya menyatu dalam ritme pertandingan, kami serentak melompat, berteriak , dan menyanyikan yel-yel sepanjang pertandingan. Ya, banyak yang emosional akibat tindak penonton lain yang tidak sopan. Saya sendiri bersama teman menikmati pertandingan ini, karena ini hal pertama dalam cerita hidup saya. Oh iya, tidak lupa saya menempelkan stiker bendera di pipi sebagai atribut dan bukti dukungan kepada Timnas.

“INDONESIA!! INDONESIA!! INDONESIA!!” Kata-kata ini terdengar menggema di dalam stadion besar GBK, saya membayangkan betapa besarnya cinta pendukung Timnas ini kepada Indonesia, pada saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan hingga gagalnya Ferdinand Sinaga mengeksekusi tendangan pinalti penonton tidak berhenti memberi dukungan dan teriakan-teriakan yang membakar semangat. Ini pelajaran, rasa nasionalisme seketika terusik oleh event olah raga, tidak bisa dipungkiri sepak bola khususnya bisa menjadi alat pemersatu bangsa, khususnya antara The Jack dan Viking. Walau kalah, atau sebut saja dapat medali perak, saya salut kepada para pemain dan penonton. Tepuk tangan tetap menggema sebagai apresiasi atas usaha panjang dan kerja keras pemain dan tim pelatih.

Menarik, ini ternyata serunya nonton bola langsung di stadion sekelas GBK, apalagi pada event-event internasional, dorong-dorongan dengan penonton lain seolah-oleh menjadi nikmat tersendiri. Kagum, itu perasaan awal ketika masuk stadion dan melihat sekeliling stadion penuhnya aura dukungan dan semangat membela. Salut!

Tapi, terakhir, saya ingin bertanya, ada cara lain untuk membangun jiwa nasionalisme bangsa ini selain olah raga? khususnya yang berkaitan langsung dengan keadaan dan permasalahan sosial bangsa? Bagaimana caranya?

Putra Dwitama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s