Tentang Nasionalisme

Tokoh Tiongkok Modern, Deng Xiaoping pernah berkata, “Zhou Enlai menyatakan banyak hal, mengerjakan banyak hal yang bertentangan dengan perasaan dan keyakinan sebenarnya…tetapi ia selalu menjaga pikirannya tentang kepentingan bangsa”.

Sedikit mengenai orang yang dibicarakan Deng Xioping, Zhou Enlai adalah tokoh intelektual revelusioner yang membawa Tiongkok ke zaman pencerahan bersama Mao Dzedong. Kedua orang ini adalah nama yang begitu popular dan familiar di telinga para pengamat dan pemerhati perkembangan Tiiongkok disamping Sun Yat Tsen dan yang lainnya. Begitu kentalnya ideologi komunis dalam perkembangan dan pembangunan Tiongkok membawa ceritera tersendiri yang menarik untuk diamati. Kontradiksi komunisme di Tiongkok pada saat itu adalah pemeliharaan kapital dalam rangka mencapai tingkat produksi industri, hal yang sangat bertolak belakang dengan paham tersebut pada masa itu.

Indonesia yang akan berumur 64 tahun pada tanggal 17 Agustus telah lama paham dan mengerti mengenai Nasionalime. Ada dua hal menurut penulis yang melandasi tumbuh dan berkembangnya paham nasionalisme itu. Pertama, latar belakang penjajahan, keberadaan penjajah di Indonesia dengan berbagai bentuk penindasan yang diperoleh oleh kebanyakan orang telah mengiring berbagai rasa perlawanan dan pemberontakan untuk bebas dari berbagai macam penindasan dan kesengsaraan itu tumbuh. Kedua, pluralitas, keadaan geografis dan keberadaan etnis yang sangat beragam ternyata semakin memperkuat dalam tumbuh dan berkembangnya nasionalisme itu, faktanya adalah banyaknya perlawanan oleh kerajaan di daerah-daerah dalam mengusir penjajah dan keinginan dalam persatuan dalam perlawanan dan kenegaraan. Tetapi kita tidak akan berbicara itu terlalu banyak, lebih lanjut bisa ditemui di berbagai literatur pergerakan bangsa Indonesia.

Menurut penulis mungkin yang lebih menarik adalah bagaimana Nasionalisme itu sekarang? Seperti yang dikatakan sejarahwan Ong Hok Ham dalam Radhar Panca Dahana, Indonesia merdeka tidak memiliki, membawa, atau menciptakan apa-apa, kecuali aparatus dan publik yang sama dengan negeri kolonial yang “merasa” telah ditinggalkannya, dengan demikian Indonesia hanya sekedar ide dan imagined entity. Terus pertanyaanya bagaimana cara menkonkretkan ide itu? Adalah nasionalisme yang dapat memandu dalam mewujudkan apa yang tidak dimiliki, yang tidak dibawa, dan yang tidak menciptakan apa-apa itu.

Rasanya semua negara adalah demikian pada masa transisi pasca kemerdekaan, terutama negara-negara dunia ketiga. Hal demikian juga pernah dialami oleh Tiongkok sebelum pembebasan, yaitu pada masa-masa setelah hancurnya zaman dinasti dan penjajahan “lokal” oleh Kuomintang. Kentalnya pengaruh ideologi pada masa itu bisa menyebabkan terhambatnya pertumbuhan Tiongkok terutama pertentanga-pertentangan antara kaum kiri dengan kaum yang kelas-kelas yang dianggap kapitalis. Zhou Enlai adalah potret yang bisa mengedalikan hal tersebut, berdasar keterangan Deng Xiaoping di atas, Zhou Enlai yang secara ideologis adalah pejuang sejati Revolusi Tiongkok, pada masa pertentangan dalam pembangunan dia menyatakan dan mengerjakan banyak hal yang bertentangan dengan keyakinanya. Semua itu dilakukan demi kepentingan negara. Jelas dapat dipahami salah satu bentuk pemahaman atas nasionalisme adalah kemauan keras warga negaranya dalam kemajuan bangsa dan negaranya. Dalam pemahamannya sebagai penguasa, nasionalisme itu adalah kekuatan yang dapat melawan potensi-potensi penyalahgunaan wewenang yang dapat menghambat pikiran-pikiran tentang kepentingan bangsa, outputnya adalah akan menghasilkan penguasa sebagai pekerja dan pelayan bukan pikiran-pikiran tentang kediktatoran.

Makna Nasionalisme pada masa pra transisi antara Tiongkok dan Indonesia adalah sama, yaitu paham-paham pembebasan dan kentalnya nuansa ideologi. Kini, hal itu tidak lagi dirasakan. Mungkin itulah nasionalime kekinian, seperti yang dikatakan Budayawan Radhar Panca Dahana dalam Inikah Kita:

Nasionalime tentu saja mesti secara radikal berubah makna dan signifikansinya, ketika nation yang mengisinya telah begitu lumer. Itu pun jika sebagian kita masih menganggapnya perlu. Bagi yang lain, yang bilang “Hari geneehh ngomongin nasionalisme?!” sambil membuka laptopnya di sebuah kedai kopi Amerika dengan ballpoint Mont Blanc yang menggantung di kemeja motif batik yang bertuliskan made in Malaysia mungkin nasionalisme sudah tidak cukup maknanya, dibanding kawan-kawan chatting internetnya dari berbagai negara, misalnya.

Kuatir? Boleh saja. Tidak setuju? Untuk itu kita harus bicara tentang nasionalisme sekarang.

Putra Dwitama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s